Belajar Pengelolaan Mutu Perguruan Tinggi Dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Malang – Pertengahan tahun 2022, LPM IAIN Palangka Raya berkesempatan belajar ke “kota bunga” Provinsi Jawa Timur. Kota terbesar kedua setelah Surabaya, juga salah satu kota pendidikan. Karena ada lima perguruan tinggi negeri besar disini dan mungkin ada puluhan atau ratusan perguruan tinggi swasta lainnya. Kota yang ketika kami turun dari mobil, hawa sejuk langsung menyapa kami dan nyes. Ya betul. Kota tersebut adalah Malang. Dalam kegiatan benchmarking kali ini, turut pula hadir perwakilan KPM dan GPM Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan sebanyak 4 orang sehingga jumlah total rombongan kami sebanyak 11 orang.

Hari itu Rabu (29/6) setibanya di kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, tepat di depan di gedung Rektorat yang diberi nama gedung Dr. (H.C.) Ir. Soekarno, kami disambut langsung oleh Ketua LPM UIN Malang, Bapak Helmi Syaifuddin. LPM IAIN Palangka Raya juga telah intens berkomunikasi dengan LPM UIN Malang pada pelatihan Auditor Mutu dan pertemuan percepatan akreditasi di Lombok. Jadi, masih dalam suasana yang akrab dan hangat kami diajak memasuki kantor LPM UIN Malang yang berada di lantai 4 gedung rektorat. Kami juga disambut oleh beberapa personel LPM Malang yang sudah lebih dulu tiba di kantor.

Suasana dialog antara LPM IAIN Palangka Raya dengan UIN Malang berlangsung hangat dan penuh keakraban.

Kami awali agenda benchmarking ini dengan memperkenalkan diri satu persatu. Setelah sesi perkenalan, kami lanjutkan pertemuan di ruang rapat Senat UIN Malang. Paparan awal disampaikan oleh Ketua LPM Malang, dilanjutkan oleh Sekretaris dan Kepala Pusat.

Pak Helmi menjelaskan bahwa bagian penting yang harus dibangun sejak awal dalam kaitannya dengan pengelolaan mutu Perguruan Tinggi adalah organisasi. Setelah itu menciptakan sistem yang kokoh. Instrumen penguatnya adalah Teknologi dan Informasi. Disamping itu beliau juga sampaikan bahwa kegiatan wajib LPM lainnya adalah benchmarking. Benchmarking adalah kesempatan untuk terus “sawang sinawang”, belajar kepada PT lain yang lebih Unggul. “Biasanya kami lakukan ketika perkuliahan telah selesai dan AMI sudah dilakukan. Karena LPM bekerja sesuai siklus (siklus mutu PPEPP)”, ungkap beliau.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh LPM IAIN Palangka Raya pada sesi tanya-jawab. Diskusi dimulai dari membahas pelaksanaan AMI, perapian data PD-DIKTI, pelaksanaan survei yang diakomodir oleh LPM dan unit lainnya, monitoring dan evaluasi kegiatan dalam mendukung akreditasi, bagaimana mengevaluasi beban kinerja dosen, serta manajemen digitalisasi dokumen untuk mempermudah kinerja pelayanan akademik dan non akademik.

Sesi foto bersama

Helmi sampaikan bahwa tahun 2022, berdasarkan perjanjian kinerja (perkin) yang telah disepakati antara Rektor dan Ketua LPM, UIN Malang tahun 2022 menargetkan 8 prodi mendapatkan predikat “Unggul”. Prodi yang ditargetkan “Unggul” tersebut telah didukung oleh e-SPMI. e-SPMI adalah aplikasi yang dikembangkan secara mandiri oleh UIN Maliki untuk melakukan AMI, MONEV, RTM, dan SURVEI. Desain aplikasi ini dibuat untuk mendukung akreditasi prodi dan perguruan tinggi. Aplikasi ini juga memudahkan ketua LPM melakukan monitoring dan evaluasi untuk mencapai target berjangka karena data sudah terintegrasi dengan aplikasi manajemen data internal lainnya (integrated data dan multiplatform).

Dalam sesi terakhir, LPM UIN Malang sangat “welcome” jika IAIN Palangka Raya ingin mengadopsi beberapa sistem informasi yang telah dibangun oleh mereka. Selain itu, LPM Malang sangat memegang pesan yang pernah disampaikan oleh Prof. Imam Suprayogo bahwa beliau berharap UIN Malang dapat menjadi “Guru” bagi seluruh PTKIN. (imz/rh/en)

Serah terima cinderamata antara Ketua LPM IAIN Palangka Raya dengan Ketua LPM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.